Advertisement
Advertisement
Kembali kepada Fitrah
Selasa, 06 September 2011
Ramadhan memang baru saja berlalu. Ada rasa sedih dan bahagia menyatu mengiringi kepergiannya. Namun demikian, bagi orang beriman, yang khusu' melaksanakan puasa, ada dua kemenangan yang akan diperoleh bagi orang yang melaksanakan ibadah puasa ketika memasuki Idul Fitri.
 

Pertama, ketika mengakhirkan puasa sebulan penuh, kedua, kelak bertemu dengan Allah SWT dengan segala kenikmatannya. Inilah yang merupakan dambaan insan beriman dari buah ketaatannya mengisi hari-hari Ramadhan.

 

Idul fitri adalah hari kemenangan besar yang mengembalikan manusia pada fitrahnya (kesuciannya) dimana jiwa kembali bersih karena dibasuh dengan ibadah, fitrah dan saling memaafkan serta rezeki yang kita miliki telah dicuci pula dengan zakat.

 

Kembali kepada kesucian artinya dengan merayakan Idul Fitri ini kita mendeklarasikan kesucian kita dari berbagai dosa sebagai buah dari ibadah sepanjang bulan Ramadan. Pada Idul Fitri inilah, manusia yang taat pada takdir Allah SWT meyakini tibanya kembali fitrah diri yang kerap diimajinasikan dengan ungkapan kala itu seperti terlahir kembali. Dan, bila kita bersedia menerima fitrah yang ada di hari besar ini serta menerjemahkan dengan pikiran dan bahasa sederhana, Idul Fitri merupakan momentum bagi manusia untuk langkah awal menuju kehidupan lebih baik.

 

Di hari Idul Fitri, jiwa kita akan merasa tenang dan tenteram karena dosa-dosa kita kepada Allah SWT telah diampuni, berkat puasa Ramadhan yang telah kita lakukan karena dorongan iman dan mengharapkan pahala dari Allah SWT. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, niscaya diampunkan baginya apa yang telah lalu dari dosanya”.

 

Sesudah shalat Idul Fitri, kita sesama kaum muslim saling mendo'akan, semoga segala amal ibadah yang baru saja kita laksanakan diterima Allah, dan sekaligus meminta maaf kepada keluarga, kaum kerabat dan famili, teman, tetangga dan kenalan kita dari kejahatan, kesalahan serta perbuatan dzalim yang pernah kita lakukan terhadap mereka, agar jiwa kita benar-benar terbebas dari dosa kepada Allah SWT dan kesalahan kepada sesama manusia.

 

Dengan demikian kita akan dapat merasakan kebahagiaan yang sejati. Dalam surat Al-Imran ayat 112 Allah, SWT telah berfirman: “Mereka itu akan ditimpa kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka itu menyambung tali hubungan baik dengan Allah SWT dan tali hubungan baik dengan sesama manusia”.

 

Dengan menyambung tali hubungan baik sesama manusia yang ditandai dengan masing-masing pribadi berani mengakui kesalahan dirinya dan berani meminta maaf kepada orang yang lebih muda usianya dan lebih rendah pangkat dan derajatnya, kehidupan masyarakat nampak rukun dan damai.

 

Persatuan dan kesatuan masyarakat yang tulus dapat kita saksikan dan rasakan dengan jelas. Sedang persatuan dan kesatuan yang tulus dan murni dari sesuatu bangsa itu adalah merupakan salah satu kunci dari keberhasilan dalam mencapai pembangunan lahir dan batin. (Redaksi)

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >