Advertisement
Advertisement
Taqwa Kunci Keberhasilan Insan Beriman
Selasa, 06 September 2011

Dengan takbir dan tahmid itu kita melepas Ramadhan dan dengan Walillahulham kita sambut Syawal 1432 H. Ramadhan yang arti harfiahnya antara lain “mengasah dan membakar” dengan harapan selama Ramadhan kemarin benar-benar telah dibakar dan diasah lahir dan batin, dosa-dosa kita diampuni oleh Allah dan kita telah terlatih dengan amal-amal kebajikan sehingga berhak untuk mendapatkan predikat taqwa kepada Allah SWT.

 

Demikian ungkap Sekretaris Umum Dewan Da’wah H. Amlir Syaifa Yasin MA dalam khutbah Idul Fitri di halaman RSUD Palembang Moch. Husin yang dihadiri ribuan jamaah, Rabu 31 Agustus 2011 bertepatan dengan 1 Syawal 1432 H. Dalam kesempatan itu, Amlir selanjutnya menjelaskan lebih rinci, bahwa taqwa itu berarti takut, cinta, rindu, dan harap. Taqwa itu berasal dari akar kata Waqaya yang berarti menjaga, memelihara, melindungi, dan menyelamatkan.

 

Lebih lanjut Amlir menjelaskan, menjaga sikap hidup dengan serius dan terus menerus serta disiplin menjalankan syariat Islam adalah pengertian taqwa. Sikap hidup atau sikap mental seseorang yang selalu berhati-hati di dalam segala tindakan tidak terpengaruh oleh situasi dan kondisi apapun.

 

Dalam suasana yang penuh kesyahduan itu, Amlir menguraikan bahwa taqwa memiliki jenjang yang cukup panjang. Ketika seseorang mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai pertanda ia telah  menjadi muslim, tidaklah otomatis dia disebut sebagai orang yang beriman. Hal itu terbukti ketika peristiwa penaklukan Mekkah, sesudah nabi dan para sahabat hijrah ke Madinah dan bermukim di sana delapan tahun, barulah perintah haji yang didahului dengan pelaksanaan ibadah umroh.

 

Namun, masih menurut Amlir, umroh itu tidak dapat dilakukan dengan sempurna karena dihadang oleh orang-orang kafir quraisy sampai terjadi fathu makkah pada tahun ke sepuluh hijrah baru dapat terlaksana dengan aman, tidak terjadi pertumpahan darah. Kala itu berbondong-bondonglah penduduk asli kota Mekkah menemui Rasulullah sambil mengatakan, ‘kami beriman dengan Engkau wahai Muhammad”.

 

Pada saat itu turunlah ayat yang artinya, “Telah datang sejumlah orang-orang menemui Rasul mengatakan kami beriman, lalu Allah menegaskan, “Katakan kepada mereka bahwa mereka belum beriman, namun mereka baru masuk Islam, karena iman itu belum masuk ke hati mereka”. (Al-Hujurat (49) : 14). Dari ayat ini jelaslah, ternyata sekedar mengucapkan dua kalimat syahadat belumlah dikatakan beriman, sebelum kita berilmu, meyakini dan menjadi prinsip di dalam hidup kita sehari-hari.

 

Selanjutnya Amlir menuturkan, setelah kita berimanpun belumlah cukup kalau tidak diikuti dengan pengamalan. Ketika iman itu dijalankan dengan sepenuh keikhlasan barulah kita bisa disebut sebagai orang yang menuju ketaqwaan. Artinya, ungkap Amlir, ada jenjang-jenjang menuju taqwa. Pertama, menjadi muslim, kedua, menjadi mukmin, ketiga, menjadi muhsin, keempat menjadi mukhlish dan kelima, menjadi muttaqin. Ketaqwaan itu setinggi-tingginya derajat seorang muslim, seperti dinyatakan Allah dalam surat Al-Hujurat (49) ayat 13 yang artinya, “Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang prempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

 

Ketaqwaan itu merupakan sentrum yang menjadi puncak cita-cita kehidupan seorang muslim, sementara Ramadhan adalah merupakan salah satu sarana untuk kita memperoleh ketaqwaan itu sendiri. Untuk itu, Allah memberikan keutamaan dan janji-janjiNya kepada mereka bertaqwa.

 

Adapun janji-janji Allah itu adalah, Allah akan memberikan ampunan dan sorga, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada sorga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang yang bertaqwa”. (Ali Imrah (3) : 133). Kemudian juga seorang muslim harus memiliki persiapan di dalam hidup di dunia ini baik keterampilan ilmu maupun keterampilan dalam bentuk skill. Tetapi diantara semua bekal yang terbaik itu adalah disertai dengan ketaqwaan kepada Allah, “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa, dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”. (Al-Baqarah (2) : 197).

 

Kemudian juga dikatakan, orang bertaqwa tidak pernah takut menghadapi tantangan kehidupan dan tidak juga pernah sedih jika mereka belum berhasil, “maka barangsiapa yang bertaqwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih”. (Al-A’raf (7) : 35). Kemudian, Allah akan memudahkan urusan bagi orang-orang yang bertaqwa, “Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertaqwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik berupa surga. Kama kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah”. (Al-Lail (92) : 5 – 7).

 

Ketaqwaan juga membuat seseorang memperoleh keberuntungan, “Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah, dan bertaqwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan”. (An-Nur (24) : 52). Kemudian, orang bertaqwa akan mendapatkan kemakmuran dan keberkahan, “Jikalau sekiranya penduduk negeri itu beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (Al-A’raf (7) : 96).

 

Sebagai penutup dalam khutbah itu, Amlir menyimpulkan, ketaqwaan akan menjadi alat kontrol terhadap perilaku seseorang di dalam hidupnya untuk memperbanyak amal kebajikan dan menghindari semua bentuk perbuatan maksiat dan dosa. Tidak ada dalam memori kehidupan seseorang muslim melakukan perbuatan yang melanggar agama kecuali ketaqwaan itu sudah tercabut di dalam dirinya. Ketaqwaan kepada Allah menyebabkan ia malu melakukan perbuatan dosa baik dilihat maupun tidak dilihat manusia, baik di tempat sepi maupun di tempat ramai. (Oma Rasyid)

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >