Advertisement
Advertisement
Idul Fitri Di Negara Muslim Minoritas
Kamis, 08 September 2011

Shaum ramadhan yang memiliki nilai rohani tinggi, bagi mereka yang menjalankan biasanya membawa penyegaran kemanusian. Lalu muncul kerinduan suasana masa lalu, ketika masih anak-anak, disaat takbir bergema di penghujung bulan puasa. Menyeruak keinginan “pulang” ke kampung halaman.

 

Bagi umat Islam yang berada di Negara mayoritas muslim, seperti di Indonesia misalnya,  kerinduan pada kampung halaman terasa spesial karena suasana Idul fitri, sangat terasa. Dahaga rohani untuk menapak masa lalu, dalam alunan takbir, disertai asesoris tradisi seperti ketupat dan opor ayam, menggoreskan kesan yang indah dan selalu diharapan hadir setiap saat.

 

Berbeda dengan suasana di Negara yang umat Islamnya minoritas. Idul Fitri, seperti tak meninggalkan jejak. Jangan berharap alunan takbir bergema, apalagi yang disertai arak-arakan serta diwarnai iring-iringan obor seperti di kampung-kampung di negeri ini. Hari Idul Fitri, praktis tak berbeda dengan hari lainnya.

 

Di Inggris misalnya, suasana Idul Fitri, di jalan-jalan utama, kota London sama sekali tak tercium aromanya. Bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di Inggris sudah memahami suasana itu. Namun mereka tidak kehilangan semangat. Suasana rohani yang menyeruak usai shaum, menggerakkan mereka menuju Kedutaan Besar Republik Indonesia di Grosvernor Square.

 

Aktivitas masyarakat Inggris di sepanjang Grosvernoor Square memang seperti tak ada perubahan. Berbeda dengan di Kantor KBRI London yang letaknya berdekatan dengan kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat di kawasan cukup elit, tak jauh dari tempat belanja nan hiruk pikuk Oxford Street. Meski kantor diliburkan untuk urusan visa dan sebagainya, kantor ramai meriah oleh suasana Idul Fitri. 

 

Ucapan selamat Idul Fitri, Maaf Lahir Batin, saling bersautan. Aroma Idul Fitri khas Indonesia pun seperti menyeruak, menyelinap dalam kebisingan Oxford Street yang kaku dan terkesan formal itu.

 

Di kawasan Cina, Idul Fitri lebih terasa walau teralokasikan pada kawasan tertentu. Maklum, penduduk muslim di Cina tergolong besar walau untuk persentase di bandingkan dengan seluruh penduduk Cina masih minoritas.  Di daerah muslim, seperti di Xinjiang, aroma Idul Fitri menyengat mewarnai dari sejak malam sebelumnya, melalui takbir-takbir, yang bergema walau hanya sebatas di dalam masjid.

 

Pagi hari, sekitar seribuan lebih umat Islam antara lain berkumpul di satu kawan di Xinjiang untuk melaksanakan sholat Idul Fitri.  Satu jam sebelum pelaksanaan sholat  pria-pria berkulit kuning  dengan  mengenakan jas khas dan kopiah putih berdatangan menuju arena sholat Idul Fitri. Para wanita juga tak ketinggalan ikut berbondong-bondong meramaikan masjid. Mereka biasanya mengenakan baju hangat dan kerudung setengah tutup.

 

Lalu, usai sholat, mendengarkan khutbah dan saling mengucapkan selamat Idul Fitri dan maaf-maafan, mereka kemudian bersama-sama menikmati makan bersama. Seluruh jamaah menikmati acara makan, yang disediakan dalam jumlah besar itu. Lalu, seperti di Indonesia, mereka juga saling mengunjungi kerabat bersilaturahmi; sebagian  datang ke makam keluarga yang sudah meninggal  untuk membacakan doa.

 

Di Belanda, momen Idul Fitri seperti di kawasan Eropa lainnya, hanya terasa pada komunitas masyarakat muslim. Tak ada misalnya, libur khusus, apalagi takbir keliling seperti di Indonesia. Bahkan di negeri yang tergolong kecil itu, jika tidak memiliki hubungan silaturrahmi intens, bisa-bisa tidak tahu kalau hari itu  adalah Idul Fitri.

 

Kalangan umat Islam dari berbagai Negara yang berjumlah sekitar satu juta itu (empat persen) yang masih ketat menjalankan ibadah, biasanya mengetahui masjid-masjid di Negara yang jumlahnya cukup lumayan, sekitar 200 masjid. Di situ, umat Islam dari berbagai Negara berkumpul untuk melaksanakan sholat Idul Fitri.

 

Usai sholat, seperti biasa mereka bermaaf-maafan lalu menikmati hidangan. Biasanya jenis hidangan tergantung masyarakat mana yang paling dominan aktif di Masjid itu. Bila masyarakat Maroko yang rajin, hidangan yang tersedia biasanya khas Maroko. Bila dari Indonesia, ya berarti siap-siap mendapat opor ayam dan ketupat dengan modifikasi agak berbeda dengan ketupat Indonesia. Biasanya ketupat dibungkus dengan plastik dan sudah terpotong-potong di atas meja, tidak pakai janur seperti di Indonesia.

 

Masyarakat muslim dari Indonesia di Belanda biasanya memiliki masjid sendiri. Karena itu, suasana Idul Fitri agak sedikit lebih terasa dibanding masjid lain. Ini karena suasana persaudaraan yang terangkai, merasa senasib sepenanggungan di negeri orang.

 

Mereka antara lain berkumpul di masjid Baiturahman di Reiderkereq. Di sana, semuanya berasal dari Indonesia, seperti  imam maupun penceramah. Tentu saja, masakan khas Indonesia saat Idul Fitri muncul menjadi penghias acara ramah tamah.

 

Kegiatan serupa juga bisa ditemui di kota Leiden dan Delf. Masyarakat Indonesia yang berada di pusat kota biasanya melakukan sholat Idul Fitri di masjid yang berada di dalam komplek kedutaan besar Indonesia di Den Haag. Suasana Idul Fitri mungkin yang paling terasa di kedutaan. Karena praktis hampir seluruhnya yang hadir adalah masyarakat Indonesia.

 

Idul Fitri di Negara-negara yang umat Islamnya minoritas belakangan ini memang lebih terasa. Sejak Cina lebih terbuka dan komunis Soviet jatuh, ekspresi keislaman saat melaksanakan perayaan hari-hari besar Islam tak lagi dibayangi ketakutan. Apalagi belakangan makin banyak kalangan yang tertarik pada ajaran Islam. Kemeriahan, sekalipun tak seperti di Negara mayoritas muslim, terasa memberi kesan indah.

 

Seperti kata-kata bijak, umat Islam seharusnya memang seperti ikan yang tak asin oleh air laut. Keislaman berada di mana pun tetap mekar menebarkan aroma segar nan indah. Karena itu, berada di kawasan mana pun, kekhusuan, kehikmatan ibadah, seperti shaum ramadhan dan perayaan Idul Fitri, tetap terasa. Allahu akbar, walilla-hilham. (miqdad)

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >