Advertisement
Advertisement
Mushola Kontrakan di Purebali
Jumat, 30 September 2011
‘’Alhamdulillah, saya tetap Islam,’’ ucap Ny Halimah, sebut saja begitu, warga Kampung Purebali, Kelurahan Pulogadung, Kecamatan Rawamangun, Jakarta Timur. Perempuan paruh baya ini menuturkan, pada 1992 berdiri sebuah gereja di kampungnya. Padahal, penghuni kampung pemulung di tepi Jalan By Pass Pemuda ini mayoritas beragama Islam. Mereka kebanyakan berasal dari Jawa Tengah. Sedang jemaat gereja didatangkan dari luar Purebali dengan bus.
 

Selain menyelenggarakan kebaktian, pendeta dan aktivis gereja tersebut juga mendekati masyarakat setempat. Termasuk Ny Halimah. ‘’Saya didatangi langsung oleh pendetanya,’’ ungkap warga RT 02 RW 02 ini. Maksud mereka jelas, merayu agar Halimah bersedia menjadi anggota jemaat dengan segala iming-imingnya.

 

Namun Halimah bergeming. ‘’Biar miskin, saya tetap Islam,’’ tandas Ny Halimah yang kini penggerak pengajian dan sudah tidak memulung lagi. Ia menyayangkan, lembaga Islam belum ada yang peduli pada kebutuhan umat kampungnya sehingga ada yang murtad. ‘’Ada seorang ibu yang murtad setelah persalinannya dibantu gereja. Sekarang seluruh keluarganya yang di sini maupun di kampung juga sudah beralih agama,’’ ungkap Ny Halimah.

 

Apa boleh buat, akhirnya ia turut memasukkan anaknya ke TK yang dibuka gereja. Sebab, di Purebali waktu itu belum ada TK umum atau TK Islam. TK yang dikelola aktivis gereja itu gratis sama sekali. Bahkan para murid yang jumlahnya puluhan bebas berpakaian tanpa alas kaki sekalipun.

 

‘’Begitu anak-anak kami masuk ke TK itu, gerbang sekolah langsung dikunci. Kami tak bisa melihat belajar-mengajar mereka,’’ kenang Halimah.

 

Ia dan para emak terperanjat, ketika anak-anak mereka yang sekolah di TK itu jadi fasih berdo’a dengan cara Nasrani. Tidak ada lagi bismillah, zonder pula  alhamdulillah.

 

Wuah, Ny Halimah gerah. Ia lalu mengadu pada Umi Ruminah, pengelola TK Islam di komplek seberang jalan. Umi Ruminah yang mantan dosen agama IPB, dikenal sebagai ustadzah di Rawamangun. Di rumahnya ia juga membina 60-an muslimah warag Purebali.

Demi menyimak laporan Ny Halimah, Sang Ustadzah langsung ambil keputusan. ‘’Sudah, begini saja, pindahkan semua anak muslim sekolah kemari. Gratis!’’ katanya.

 

Maka, puluhan generasi belia Islam Kampung Purebali pun dihijrahkan sekolahnya ke TK Islam milik Umi Ruminah. Diantar ibunya, anak-anak itu jalan kaki bolak-balik menyeberangi keramaian jalan raya  Pemuda by Pass.

 

Beberapa pekan lalu, Umi Ruminah memanjari sebuah bedeng petak kontrakan di Purebali. Rencananya, kontrakan berukuran 3 x 3 itu akan difungsikan sebagai mushola sekaligus kelas TBM (tempat belajar mengajar).

 

Namun, dengan dalih butuh uang, pemilik bedeng malah mengoper kontrakan itu pada orang lain.

 

Kini, Umi dan jamaah ibu Purebali sudah mendapat kontrakan lain. Mereka baru sanggup membayar untuk sebulan, Rp 300 ribu. Untuk keperluan selanjutnya, Umi Ruminah dan kadernya mengadu ke LAZIS Dewan Da’wah.

 

‘’Insya Allah kita menyewa dua petak sekaligus selama setengah tahun untuk mushola dan kelas TK.  Kita juga persiapkan peralatannya seperti sound system dan karpet,’’ ungkap Irwan dari LAZIS Dewan Da’wah, usai  bersilaturahim ke Purebali Senin pekan lalu.

 

Selanjutnya, LAZIS mengajak kaum muslimin untuk mewujudkan Mushola dan TK Al Furqon Kampung Purebali yang permanen. ‘’Di kampung ini sedikitnya ada 4 café, masak kita tidak bisa mewujudkan satu mushola,’’ kata Irwan.

 

Untuk informasi dan berinvestasi akhirat, silakan mampir ke Gedung Menara Da’wah Jl Kramat Raya 45 Jakarta, Telp (021) 31901233; Fax (021) 3903291. Atau silakan SMS ke nomor 08128109391. (bowo)

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >