Advertisement
Advertisement
Qurban dan Air buat Timor
Rabu, 26 Oktober 2011

“Saya tidak tahu persis jumlah yang mati kelaparan. Tapi memang penduduk di Amanuban sudah sangat krisis pangan. Bahkan stok makanan pokok jagung titi (tumbuk) pun sudah menipis,’’ tutur Ustadz Ramli.

 

Da’i Dewan Da’wah Propinsi Nusa Tenggara Timur ini, belum lama berselang, mengunjungi jamaah di beberapa desa di Kecamatan Amanuban, Timor Tengah Selatan (TTS), untuk menyampaikan bantuan sembako. Kepergiannya bersama aktivis dan bala bantuan dari Hidayatullah, Persis, MUI, dan Bazda NTT.

 

Tragedi kelaparan tersebut merupakan buntut bencana kekeringan. Menurut Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan NTT, Nico Bala Nuhan, kekeringan tahun ini melanda sedikitnya 199 desa yang tersebar di tujuh kabupaten di NTT. Paling parah terjadi di desa-desa di Kabupaten Sumba Timur, Timor Tengah Utara, dan Ngada. Lainnya tersebar di Belu, Flores Timur, Lembata, dan Kupang.

 

Kekeringan yang berdampak gagal panen tersebut, mengakibatkan sedikitnya 30.620 keluarga atau sekitar 91.306 jiwa terancam kelaparan. Sempat terkabarkan, enam warga Kabupaten (TTS), tewas kelaparan. Mereka penduduk Amanuban Timur dan Amanuban Selatan.

 

Bahkan desa-desa berpenduduk mayoritas muslim, selama ini terpaksa hidup dalam kekeringan dan ancaman kelaparan. Misalnya warga Pulau Kangge, Kecamatan Pantar Barat Laut, Kabupaten Alor, NTT. Minimnya air bersih (fresh water), membuat mereka harus berjibaku mencari ke sejumlah sumur yang jauhnya sampai 3 km dari rumah.

 

‘’Warga Kangge yang berjumlah 238 keluarga atau 1200-an jiwa, harus mencari air bersih ke Kampung Kayan. Kebanyakan harus jalan kaki sejauh 3 km,’’ papar Gunawan Bala,  Da’i Dewan Da’wah di Kabupaten Alor.

 

Ia melanjutkan, warga yang punya uang, biasanya menitip beberapa jirigen ke pemilik perahu motor yang hendak mengambil air lewat jalur laut. Ada juga yang menempuh jalur ini dengan sampan dayung.

 

Kekeringan juga melanggani warga Pulau Baranusa, Pantar Barat, Alor. Hampir semua penduduk desa ini, setiap akhir pekan tumplek di satu-satunya sumber mata air umum Eli-ke’el. MCK (mandi-cuci-kakus) ini kondisinya kumuh, tidak higienis, dan tidak memiliki ruang privasi.

 

Ketika Ustadz Gunawan Bala dan Ramli berkunjung ke sana pada Ahad siang, 16 Oktober lalu, Eli-ke’el ramai. Tampak Mama Syarifah (58), guru ngaji di Masjid Al Hidayah Baranusa, mengenakan kemben sedang mencuci di pinggir sumur. Di sebelahnya, seorang gadis mandi basahan. Tak jauh dari mereka, sepasang suami istri berpakaian seadanya juga tengah asyik mencuci. Sedang di depannya, dua remaja mencuci motor.

 

Untuk mengambil air bersih, warga Pulau Buaya di Kecamatan Pantar Barat, juga mesti menyeberang ke pulau lain. Tidak bisa tidak, mereka harus keluar ongkos, waktu, dan tenaga ekstra, mengarungi ombak yang sering tak ramah, demi beberapa jirigen fresh water.

 

Warga Pulau Kera, yang letaknya tak jauh dari darmaga Oeba Kota Kupang, harus menebus  Rp 2000 untuk setiap 20 liter air bersih yang ada di Oeba. Itu belum termasuk ongkos menyeberang pergi-pulang. ‘’Satu jirigen air isi 20 liter harganya Rp 2000, kalau 15 liter harganya Rp 1500. Ongkos perahunya Rp 6000/orang pergi-pulang,’’ terang Arsyad Abdul Latief, tetua Pulau Kera yang dihuni 78 KK atau 315 jiwa.

 

Arsyad menambahkan, di musim angin barat pada bulan Juni-Agustus, penduduk Pulau Kera terisolasi lantaran ombak tinggi dan badai laut. Saat itulah, mereka biasa makan dedaunan atau binatang apa saja yang dapat ditemui dan ditangkap di sana.

 

Menurut Imam Masjid Daarul Bahr ini, nenek moyang mereka konon sudah menghuni pulau kecil itu sejak 1919. ‘’Waktu itu moyang kami diundang oleh seorang raja di sini untuk mengajari penduduk melaut,’’ ungkap Arsyad.

 

Namun, hingga sekarang warga Pulau Kera tidak memiliki status kependudukan, meskipun secara administratif pulau ini termasuk wilayah Kota Kupang. 

 

Beruntung warga Boneana, air PDAM sudah mulai mengucur belum lama ini.  Boneana adalah resettlement eks pengungsi Timor Timur di Kupang Barat, Kabupaten Kupang. Desa ini dihuni 102 keluarga dengan 486 jiwa. Sebanyak 37 keluarga adalah Muslim.

 

Secara umum kehidupan di sini memprihatinkan. Kaum pria bekerja serabutan sebagai kuli kontrak, sedang kaum wanitanya memecah batu bukit dan mengumpulkan kayu bakar. Selama 3 hari memecah batu, hasilnya 1 rit atau 3 kubik batu bangunan yang dihargai tengkulak hanya Rp 70 ribu. Sedang tengkulak menjualnya dengan harga Rp 350 ribu.

 

Ustadz Ramli mengatakan, saat ini Dewan Da’wah dan ormas Islam Kupang tengah menghimpun bala bantuan sembako tahap kedua untuk jamaah muslim di NTT. ‘’Alhamdulillah, sudah disiapkan bantuan beras dari LAZIS Dewan Da’wah yang akan dikirim ke desa-desa di Kupang bersamaan dengan pengiriman hewan kurban nanti,’’ kata Ramli.

 

Kurban dari LAZIS Dewan Da’wah juga tengah dipersiapkan Ustadz Gunawan untuk beberapa desa di Alor.

 

Direktur Eksekutif LAZIS Dewan Da’wah, Ade Salamun, mengingatkan, masih banyak komunitas muslim yang kekurangan air bersih dan rawan pangan. Karena itu, LAZIS mengajak masyarakat untuk mendukung da’wah pedalaman melalui program qurban dan sumur air bersih. (bowo)

 

Image 

sumur di Pulau kera

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >