Advertisement
Advertisement
Mari Berbenah Rumah Ustadzah
Kamis, 12 Januari 2012
‘’Alhamdulillah, terima kasih banyak ya, semoga berkah,’’ seru Ustadzah Dedeh Mardhiyah (43) sepulang mengajar ngaji Selasa (10/1) siang. Matanya berbinar-binar melihat gunungan pasir dan tumpukan semen di depan rumahnya yang masih berantakan. ‘’Dengan material ini, insya Allah sebentar lagi rumah ini sudah bisa ditinggali,’’ katanya sambil menepuk-nepuk semen kiriman LAZIS Dewan Da’wah.
 

Bila Mamah Dedeh daiyah televisi yang kini juga bintang iklan, Dedeh yang satu ini hanyalah seorang ustadzah di TPQ Al Azmy di Kampung Pondokmiri, Desa Rawakalong, Gunungsindur, Bogor. Jika Mamah Dedeh insya Allah leluasa menyediakan mushola di rumahnya, maka selama bertahun-tahun hal itu masih menjadi kemewahan buat Ustadzah Dedeh Mardhiyah.

 

“Awalnya, saya pingin punya tempat yang agak leluasa dipakai sholat,” tutur Dedeh Mardhiyah saat ditemui di rumahnya oleh Tim Survey dari Muslimat Dewan Da’wah, beberapa hari sebelumnya. Kediaman Dedeh begitu sederhana di kampung Pondokmiri. Rumah yang ditempatinya petakan 3 ruang dengan kondisi dinding retak sana-sini lantaran tanpa tulang besi, plafon pada bolong, belum lagi genteng bocor sana-sini. Tapi, “alhamdulillah, masih bisa neduh kalau panas. Kalaupun hujan ya nggak segede di luar rumah,” ujarnya sambil tersenyum kecil.

 

Anak-anaknya pun bisa bercanda tentang kesederhanaan mereka. “Kata anak-anak, nggak usah dirobohin sama buldoser, didorong dikit aja rumah kita bisa ambruk,” Dedeh menirukan seloroh Irma, anak keduanya, yang masih duduk di kelas 4 SD. 

 

Keinginan memperbaiki kondisi rumahnya itu nyaris hanya sebatas angan.   “Setiap dapat uang rapelan dari kantor bapaknya anak-anak, alhamdulillah  selalu pas ada kebutuhan yang cukup besar, semisal uang masuk sekolah anak-anak,” tutur istri Khaerudin.  Gaji bulanan suaminya memang hanya cukup untuk makan sehari-hari. Bila ada yang sakit, bakal ‘’kiamat’’.

 

Namun kondisi yang serba terbatas ini tak menyurutkan semangat Dedeh untuk mengajar mengaji.  Setiap pagi dan sore hari, Ibu tiga anak ini mengajar di TPA dekat rumahnya.  Baginya, mengajar adalah bagian hidupnya dan sama wajibnya seperti mendidik anak-anaknya dan melayani keluarganya.

 

Sedari kecil, Dedeh yang berasal dari kawasan Gang Sentiong, Jakarta Pusat, ini tidak pernah jauh dari aktifitas pengajian.  Walau telah ditinggal wafat ibunda kala ia masih 7 tahun, Dedeh yang kemudian diasuh oleh seorang kakaknya tetap bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah.  Karena sang kakak anaknya juga banyak, 9 orang, setamat dari sana Dedeh memutuskan untuk mandiri.  Dedehpun menjadi “santri kalong” di Ponpes Al-Masturiyah, Cisaat, Bogor. 

 

Di situ, selain sekolah dan mengaji, anak ke 5 dari 8 bersaudara ini mengajar ngaji secara privat.  “Hasilnya lumayan  buat nambah uang jajan.”

 

Keadaan ini dilakoninya hingga tamat Aliyah, dan balik lagi ke rumah kakaknya di Gang Sentiong.  Di sana Dedeh menjadi pengurus Mesjid dekat rumahnya, dan mengajar ngaji serta privat.

 

Usai menikah, ia dan suami terpaksa mengalah dari kerasnya Ibukota, menyingkir ke sebuah rumah petak di Kampung Pondokmiri Bogor yang berbatasan dengan Tangerang.

 

‘’Alhamdulillah, saya di sini tetap bisa ngajar ngaji anak-anak,’’ ia mensyukuri jalan hidupnya di kampung.

 

Setiap bulan, Dedeh menyisihkan sebagian honor yang diterimanya dari TPQ Al Azmy untuk sedekah. Sisanya, untuk membiayai putri sulungnya, Riva Nur Azizah yang diharapkan kelak jadi ustadzah juga. ‘’Maunya sih jadi daiyah seperti Ustadzah Dedeh emaknya, tapi nasibnya kayak Mamah Dedeh yang di teve itu,’’ kelakar Dedeh, yang dengan segala pengorbanan memasukkan Riva ke pondok pesantren Quran wal Hadits, Situgede, Bogor.

 

Takut gubugnya roboh menimbun keluarganya, beberapa bulan lalu Khaerudin mengajukan pinjaman ke kantornya untuk merenovasi gubug. Pinjaman akan cair bila direkomendasikan Tim Survey.

 

Begitu menyaksikan kediaman Khaerudin,  Tim Survey kantornya malah mengajukan bantuan buat keluarga ini. ‘’Alhamdulillah, kami mendapat bantuan gratis Rp 15 juta untuk memulai pembangunan rumah di tanah kosong sebelah gubug kami,’’ tutur Dedeh.

 

Ditambah pinjaman lunak dari seorang kawan Rp 10 juta, berdirilah bangunan rumah yang diidamkan Keluarga Dedeh.

 

Namun hingga beberapa pekan kemudian, rumah tersebut belum bisa ditempati. Lantainya masih tanah, jendelanya masih melompong, dindingnya belum diplester. Hingga kemudian datang bantuan material dari LAZIS Dewan Da’wah untuk memplester lantainya dan menutup lubang jendela-jendela itu.

 

Menurut Ketua Muslimat Dewan Da’wah, Hj Andi Nurul Jannah, bantuan tersebut merupakan bagian dari Program ‘’Benah Rumah Ustadzah’’ LAZIS Dewan Da’wah yang dilaksanakan Muslimat Dewan Da’wah. ‘’Program ini mengajak masyarakat untuk peduli pada pengabdian para Ustadzah yang selama ini sepi dari publikasi dan penghargaan,’’ jelas Hj Nurul.

 

Untuk informasi dan berinvestasi akhirat dalam Program ‘’Benah Rumah Ustadzah’’, silakan mampir ke Kantor LAZIS di Gedung Menara Da’wah Lantai 1 Jl Kramat Raya 45 Jakarta, Telp (021) 31901233; Fax (021) 3903291. Atau silakan kontak 08128109391. (nurbowo)

 

Image 
Pemberian Material untuk membangun rumah ustadzah Dedeh di Bogor bantuan Lazis Dewan Da’wah
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >