Advertisement
Advertisement
Sekretaris Umum Dewan Da’wah Menghadiri Muktamar Rabithah Alam Islami Di Makkah
Jumat, 27 Juni 2008
Rabithah Alam Islami (Ikatan Islam se-Dunia) menggelar Muktamar Al-Alam Al-Islami Lil Hiwar (Konferensi Islam se-Dunia untuk Dialog) yang dilaksanakan di lingkungan Qasr Al Dhiyafah (Wisma Raja) tepatnya di Istana Shafa yang berdampingan dengan Masjidil Haram. Muktamar ini berlangsung pada tanggal 4-6 Juni 2008. Muktamar dibuka secara resmi oleh Khadimul Haramain Raja Abdullah bin Abdul Aziz Al Saud dan dihadiri tak kurang dari 700 ulama dan cendikiawan serta sejumlah tokoh penting internasional dari berbagai penjuru dunia seperti Asia, Eropa, Amerika, Australia, Kanada, Afrika, Kosovo, Bosnia serta dari Timur Tengah sendiri. Tokoh-tokoh tersebut antara lain; mantan Presiden Iran Akbar Hasyimi Rafsanjani, Grand Mufti Saudi Syaikh Abdul Aziz Al Syeikh, Grand Syaikh Al Azhar Prof. Dr. Mohammad Sayyid Thanthawi, Dr. Yusuf Al Qaradhawi.
 

Peserta Indonesia yang mendapat undangan Rabithah adalah : Menteri Agama RI Muhammad Maftuh Basyuni, Dr. Hidayat Nur Wahid (MPR RI), Prof. Dr. Din Syamsuddin (Muhammadiyah), Hasyim Muzadi (Nahdhatul Ulama), Abdul Wahid Alwi, MA (Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia), Prof Dr. Amir Santoso (Pengamat Politik Universitas Indonesia), Prof. Dr. Imam Suprayogo (Rektor Universitas Islam Negeri Malang), Wakil Rektor UIN Jakarta, Damanhuri Zuhri (Republika), Edi (SCTV), Rusli (Pelita) dan Umar Bawazir (Surabaya Post).

 

Raja Abdullah dalam sambutan pembukaan menyebutkan bahwa muktamar ini merupakan media yang sangat baik untuk menunjukkan kepada ummat manusia di dunia, bahwa Islam penuh dengan nilai-nilai toleran, sikap bijak dan dialog atas dasar keadilan, pendukung kemanusiaan, kedamaian dan keharmonisan serta menolak terorisme. Lebih tegas Raja Abdullah menjelaskan bahwa muktamar ini dilatarbelakangi oleh adanya keinginan kuat untuk menghadapi keterbelakangan, kebodohan di kalangan umat Islam. Bentuk dialog yang diinginkan adalah dialog yang tidak mengandung kekerasan.

 

Sekjen Rabithah Abdullah Abdul Muhsin Al Turki, mengatakan bahwa tujuan muktamar ini adalah untuk mencari masukan bagaimana seharusnya Islam berdialog dengan penganut agama lain. Dialog merupakan cara yang efektif untuk menghadapi kekuatan yang selama ini merongrong Islam yang sering menimbulkan pelecehan dan penodaan terhadap simbol-simbol keagamaan. Itulah perlunya dialog. Kita ingin menggali akar-akar dialog dari Alqur’an maupun al Hadits serta metode dan mekanisme dialog yang baik.

 

Grand Syaikh Al Azhar Mohammad Sayyid Thanthawi ketika diwawancarai oleh wartawan Republika di sela-sela acara muktamar mengemukakan bahwa begitu pentingya dialog ia menjelaskan bahwa Al Qura’an sepertiga darinya berisi tentang dialog, seperti dialog para nabi dengan kaumnya, dialog Lukman kepada anaknya dialog malaikat dengan rasul, dialog dengan orang munafik, ahlul kitab, musyrikun dan lainnya. Al Qur’an pun dalam ungkapannya banyak menggunakan kata qaalu (mereka berkata), qaala (dia berkata) dan qul (katakanlah) dan penggunaan kata qaala dan qul sebanyak 300 kali hal ini menunjukkan banyak contoh dialog yang ada di dalam Al Qur’an. Dialog yang diinginkan menurut Syaikh ini adalah dialog yang tidak menggunakan kekerasan sebagaimana Al Qur’an menjelasakan dalam QS Al Imran ayat 159, ”Maka dengan rahmat Allah, engkau bersikap lemah lembut. Jika sekiranya engkau bersikap keras lagi pemarah, niscaya mereka akan menjauh darimu. Maka maafkanlah mereka dan mohonkan ampun bagi mereka.” Lebih lanjut Syaikh menjelaskan bahwa dialog tidak hanya kepada sesama kaum muslimin yang se-aqidah akan tetapi dilakukan pula kepada yang berlainan aqidah yaitu berdialog dalam rangka urusan yang berkaitan dengan masalah ummat dan untuk menebar rasa aman dan kedamaian.

 

 

Sedangkan ulama dari Qatar Yusuf Qaradhawi menyebukan bahwa dialog bukan hanya dibutuhkan, juga merupakan kewajiban. Kitab suci Alqur’an menyerukan umat Islam untuk berdialog dengan siapapun. Kepada Ahli kitab maupun yang musyrik, kecuali yang berlaku dzalim. Islam mengakui eksistensi agama-agama lain. Mengakui nabi mereka, namun yang menjadi masalah, tidak sedikit dari orang-orang yang bukan Islam, tidak pernah mau mengakui nabi dan kitab suci umat Islam.

 

Menteri Agama RI Muhammad Maftuh Basyuni dalam sambutan penutupan ketika mewakili para peserta mengungkapkan bahwa dialog yang kontruktif dan terarah, memberikan kontribusi besar bagi upaya menghilangkan batas-batas pemisah yang muncul karena adanya kesalahfahaman dari berbagai pihak. Sebagai contoh pada level internal umat Islam misalnya kita melihat umat Islam sekarang ini ada pertikaian, perang saudara. Ini semua menuntut adanya dialog dan upaya saling memahami antara pihak-pihak yang bertikai.

 

Dr. Hidayat Nur Wahid dari MPR RI sebagai peserta dalam muktamar ini mengungkapkan Islam adalah agama yang mengedepankan dialog. Islam siap berada di tengah pluralitas masyarakat, siap untuk bersama-sama mengembangkan moralitas, mengembangkan peradaban yang berkeunggulan, menghormati kemanusiaan. Tapi juga merealisasikan hal-hal yang merupakan prinsip universal.

 

Dari Kampus pengamat Politik UI Prof. Dr Amir Santoso mengungkapkan bahwa kehadiran dirinya pada mukamar ini ia dapat mengambil pelajaran bahwa banyak permasalahan yang terjadi khususnya di Indonesia yang tidak ada penyelesaiannya, akan tetapi  sebenarnya dapat diselesaikan dengan dialog dan diskusi.

 

Menurut Abdul Wahid Alwi, MA Sekretaris Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia yang hadir sebagai delegasi Dewan Da’wah mengungkapkan bahwa muktamar ini tergolong sangat istimewa dan untuk pertama kalinya bila ditinjau dari segi tempat dan jumlah kehadiran, konferensi bertempat di bukit Sofa, yang hanya berjarak sekitar 300 meter dari Masjidil haram, dihadiri oleh sekitar 700 tokoh terdiri dari ulama, politisi, pemimpin organisasi, aktivis pemuda, wartawan dari berbagai penjuru dunia. Tujuan utama muktamar adalah ”Sosialisasi budaya dialog antara sesama manusia” terutama dari perspektif ajaran-ajaran Islam. Topik tersebut memang sangat penting dan diperlukan mengingat budaya dialog pada akhir-akhir ini sering dilupakan oleh beberapa pihak sehingga timbul tindak kekerasan antara umat manusia, sering pula terjadi kesalah pahaman dari kalangan tertentu terhadap agama Islam, disebabkan karena mereka enggan mempelajari apa itu agama Islam.

 

Akhir dari muktamar lil hiwar ini adalah kesepakatan dibentuknya sebuah Forum Dilaog Internasional yang diharapkan dapat menghimpun lembaga-lembaga lain yang fokus terhadap dialog.
 
Image 
Raja Abdullah, Sekjen Rabithah dan beberapa tokoh Islam dalam acara Mu’tamar Rabithah Alam Islami
di Mekkah, Saudi Arabia
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >