|
Kamis, 29 Mei 2008 |
|
Dalam wawancara dengan wartawan Damanhuri yang diturunkan Republika edisi Jumat, 20 Januari 2006, Hussein Umar mengemukakan bahwa sekarang ini ada usaha untuk mengalihkan fungsi dakwah yang begitu luas sehingga menjadi sempit. Umpamanya, konsentrasi pada aspek-aspek tertentu. Hussein mencontohkan, bagaimana orang senang untuk mengkaji hal-hal yang ringan yang tidak menyentuh pada hal-hal yang substansial. Misalnya, menekuni hanya satu seruan saja dalam Islam. ‘’Padahal, gerakan dakwah tidak bisa dipisahkan dari kehidupan berbangsa,’’ ia menegaskan. Dari segi kualitas sepertinya ada pengalihan arah dakwah yang semula diartikan sebagai al amru bil makruf wan nahyu anil munkar. Yang dimaksud dengan dakwah, simpul Hussein bisa disebutkan dalam satu kata, yaitu Quranisasi. Jadi, upaya kita mengoptimalkan fungsi Alquran. Karena itu dakwah bisa disebut juga sebagai Islamisasi, kita berusaha mengislamkan kehidupan umat; budayanya, ekonominya, sikapnya, jati dirinya, dan paradigma hidup, sehingga Islam benar-benar menjadi way of life. |
|
Kamis, 29 Mei 2008 |
|
Terlahir pada 14 Desember 1940 di kampung Amlapura, Kabupaten Karangasem, Bali, yang warganya mayoritas beragama Hindu, Hussein Umar mengalami sosialisasi dan internalisasi ajaran Islam yang kuat. Pagi dia bersekolah di SR (Sekolah Rakjat, setingkat SD), sorenya menjadi santri di Madrasah Al Islamiyah yang didirikan ayahandanya, Umar Hajri – keturunan Arab-Bugis. Selain itu, pada tahun 1950-an Hussein kecil juga aktif di Hizbul Wathan (organisasi kepanduan atau pramuka di bawah Muhammadiyah yang berorientasi pengabdian pada masyarakat dan perjuangan melawan penjajah). Aktivitas Hussein tak lepas dari arahan ayahnya yang wakil ketua Masyumi Kabupaten Karangasem. ‘’Pak Natsir (Ketua Umum Partai Masyumi) pernah makan siang di rumah orangtua saya di Karangasem,’’ kenang Hussein. Selepas SLTP, Hussein Umar hijrah ke Jember, Jawa Timur. Di sini, sambil meneruskan sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), ia mulai berkenalan dan aktif di organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) pada tahun 1960. |
|
Kamis, 29 Mei 2008 |
|
Kamis 19 April 2007, Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, Hussein Umar, sudah terjadwal untuk mengisi sebuah acara di Islamic Center Jakarta Utara. Demi memenuhi undangan berda’wah itu, Bang Hussein telah pamit kepada Republika agar menggeser jadwal kunjungannya ke kantor harian itu dari semula 19 April menjadi Senin, 23 April. Man proposes but God disposes. Kamis itu, 19 April 2007, pada pukul 04.00 WIB Hussein Umar memang pergi. Bukan ke Islamic Center, melainkan ke haribaan-Nya. Meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Haji Hussein Umar Al Hajr, wafat dalam usia 67 tahun, di RS Jantung Harapan Kita, Jakarta. Almarhum yang lahir pada 14 Desember 1940 di Amlapura, Karangasem, Bali, meninggalkan tiga anak yaitu Moh Amil Hussein, Magda Hussein, dan Sarah Hussein. Adapun istrinya, Al Fauziah Mohammad, dan putri sulungnya, Zakiyah, telah lebih dulu kembali ke hadirat Ilahi. Al Fauziah dimakamkan di Malaysia. Hussein juga meninggalkan tiga cucu, yaitu Albarra, Maryam, dan Moh Iqbal. |
|
Sabtu, 19 April 2008 |
|
Ulama, politisi, filsuf, dan sastrawan besar, adalah sederet sebutan yang tak terelakkan buat diri Hamka. Itu tecermin dari penghargaan nasional maupun internasional yang pernah diterimanya. Misalnya, Doctor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar, Mesir, tahun 1958. Gelar yang sama diberikan Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974. Sedangkan gelar Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno, diperoleh dari pemerintah Indonesia. Nama lengkapnya Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah, lahir di kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908. Seperti ayahandanya, Hamka kemudian menjadi tokoh nasional dan dunia Islam. Namanya disebut dengan ta’zhim sebagai ‘’Buya’’ (dari Bahasa Arab abi, abuya) yang berarti ayah kami, atau seseorang yang pantas dihormati. |
|