|
Menyadari tantangan da’wah masa kini yang semakin berat dan kompleks, Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia kembali menggelar daurah bagi para da’i dan aktivis Islam. Diberi tajuk Daurah Syar’iyyah Al-Mukatsafah an Wasatiyah Al-Islam, daurah ini berlangsung dari tanggal 29 Juni – 9 Juli 2010 atas kerjasama Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia dengan Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia di Jakarta. Dengan berbagai pertimbangan, daurah di laksanakan di 2 tempat berbeda, Cisarua, Bogor, Jawa Barat (29 Juni – 3 Juli), dan Tawangmangu, Solo, Jawa Tengah (5 – 9 Juli).
Di Bogor Daurah diikuti oleh 40 orang peserta utusan dari berbagai lembaga, ormas Islam dan pesantren-pesantren yang ada di wilayah Jabodetabek. Acara dibuka oleh Ketua Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Ustadz Mas’adi Sulthani pada tanggal 29 Juni 2010. Memberikan materi pada acara daurah ini, baik di Bogor dan Solo, adalah Syeikh Abdul Hakim Ajlan dari Saudi Arabia. Syeikh Ajlan menguraikan pentingnya mengikuti daurah ini, mengingat banyaknya perbedaan-perbedaan usul – tafaquh fiddin yang memunculkan perpecahan dalam hal fiqh-ibadah, mazhab, fiqh-jihad dan sebagainya. Syeikh Ajlan mengingatkan peserta untuk betul-betul memanfaatkan daurah ini. Selain syeikh Abdul Hakim Ajlan, pemateri lain dari Arab Saudi adalah Syeikh Nashir Al-Gifari, dan Syeikh Abdurrahman al-Luwaihiq. Meski tidak memberikan materi, syeikh Muhammad Al-Hamud ikut mendampingi para masyaikh dari Saudi tersebut. Selain itu diberikan juga materi-materi yang berkaitan dengan judul daurah tersebut antara lain tentang bahaya aqidah Syiah yang disampaikan oleh ustadz Farid Uqbah, bahaya Liberalisme oleh Adian Husaini, da’wah dan tantangannya oleh Hayat Setiawan, yang juga Ketua Dewan Da’wah Provinsi DKI Jakarta. Berkaitan dengan Daurah tersebut, disampaikan juga sejarah, visi, misi serta Khittah da’wah Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia yang disampaikan oleh Sekretaris Dewan Da’wah Ustadz Avid Solihin. Selain di Bogor, daurah juga diadakan di Tawangmangu, Solo. Sama seperti di Bogor, daurah ini diikuti 40 peserta, utusan dari berbagai lembaga, Ormas Islam dan pesantren di kota-kota Jawa Tengah. Daurah di Tawangmangu dibuka oleh Ketua Dewan Da’wah Pusat KH. Cholil Ridwan. Dalam sambutan pembukaan, KH. Cholil Ridwan selain menyampaikan ucapan terima kasih kepada para masyaikh yang telah berkenan memberikan ilmunya kepada para peserta, juga menegaskan, bahwa umat saat sekarang ini memang sedang membutuhkan sekali ilmu-ilmu keislaman. Cholil juga menyitir riwayat seorang pemikir Barat Leopold Weiss yang telah masuk Islam dengan nama Muhammad Asad. Diuraikan, Muhammad Asad sebelum masuk Islam telah meneliti kehidupan kaum Muslim Arab dan perbandingannya dengan kehidupan bangsa-bangsa Barat. Hasil penelitiannya sampai pada kesimpulan bahwa bangsa Barat membutuhkan agama Islam yang akan memberikan ketenangan dan kebahagiaan. Ditegaskan, kehidupan Barat yang mengedepankan materi saja, yang bias merusak akhlak, sementara Risalah Islam yang disampaikan Rasulullah mampu memberikan keseimbangan antara kebutuhan materi-fisik dan kebutuhan Ruhani:”Risalah Islam, mampu menyelamatkan manusia dari kerusakan ahlak” Selanjutnya KH. Cholil juga mengingatkan bahaya yang sedang berlangsung saat ini, yaitu bahaya Liberalisme yang datang dari Barat bagai gelombang tsunami yang menghantam umat Islam, bahaya Penyimpangan Aqidah, yang akibatnya sangat berbahaya. Seolah-olah membela dan membentengi syariat Islam, namun kenyataannya membawa dampak negatif yang amat besar bagi Islam serta bahaya pemurtadan yang dilakukan melalui program-program bantuan, namun ujungnya adalah penyesatan dan pemurtadan. Disamping menyajikan materi-materi pokok yang disampaikan para masyaikh dari Arab Saudi, daurah di Solo juga menghadirkan pemateri dari dalam negeri untuk membahas permasalahan lokal Indonesia, seperti Dr. Adian Husaini (Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme), Dr. Yadi Purwanto (Peta Dakwah Jawa Tengah), Amin Jamaluddin (Bahayanya Syiah), Ketua Dewan Da’wah Jawa Tengah di Solo, Drs. Solehan (Problematika Dakwah Jawa Tengah), dan Avid Solihin (Khittah Dewan Da’wah). Avid Solihin sebagai penanggungjawab pelaksana program, menegaskan bahwa upaya mewujudkan tatanan masyarakat yang Islami tidak dapat dilakukan sendiri-sendiri, melainkan harus dilakukan secara bersama-sama seluruh komponen dan elemen dakwah pada level apapun dan dimanapun. Dijelaskan lebih jauh bahwa daurah ini mempunyai tujuan umum, yaitu meningkatkan komitmen dan wawasan dakwah serta silaturrahim bagi para dai dan aktifis dari berbagai organisasi dakwah. Disamping itu, daurah menetapkan tujuan khusus, yaitu memberi bekal dan wawasan substantif kepada para da’i dan aktifis, memberi bekal substantif tentang metodologi, kaifiah, dan penanganan masalah-masalah dakwah serta meningkatkan komitmen dakwah sehingga memiliki visi ke depan, etos kerja, disiplin dan semangat kerjasama antar lembaga dan organisasi dakwah. Avid selanjutnya mengingatkan bahwa pertemuan pasca daurah menjadi hal yang sangat penting dalam setiap sistem pembinaan kader, termasuk dalam rangka evaluasi pelaksanaan daurah. Karenanya, pembentukan Ikatan Alumni Daurah menjadi agenda yang harus diwujudkan menjelang daurah berakhir. (Rusdi/Agusdin)
Ustadz Mas’adi Sulthani ketika membuka acara Daurah Syar’iyyah Al-Mukatsafah an Wasatiyah Al-Islam di Cisarua Bogor (29/6)
|